Selasa, 13 Mei 2014

Kesucian Cinta Setyowati

Saksikan Sendratari " Kesucian Cinta Setyowati " pada acara Purnawiyata kelas XII SMAN 01 KAYEN, PATI. Pada hari Senin,19 Mei 2014, yang dimainkan oleh :
1. M. Daniel Attabi : Angling Dharma
2. Ayu Mardhiyah : Setyowati
3. Mazza Muzakki A. : Resi Manukustro
4. Rifki Ahid J. : Batik Madrim
5. Anang Ma'ruf : Nagaraja
6. Chafidhotun N. : Nagagini
7. M. Yudi Guntara : Ula Tampar
8. M. Nova Purnama : Siluman Kera
9. M. Yuri : Dewata
10.Nunung Kholifah : Dewita
11.Lia Ardiani : Widata
12.Nurul : Widati
13.Nimas Karunia Esa: Widaningsih
14.M. Masluri : Dalang
15.Amalia Maghfiroh : Dayang

NB: Penulis Naskah : Nur Sitha Afrilia
Koreografer : M. Yudi Guntara & Chafidhotun Nikmah

Sendratari_Sejarah Seni Tradisional Bali

http://senitradisionalbali.blogspot.com/2012/05/sendratari.html

Sendratari
Sendratari merupakan singkatan dan perpaduan dari seni, drama dan tari. Di Bali, pertunjukan kesenian ini biasanya bersifat kolosal yang melakonkan sejarah para raja, budaya, satua atau cerita yang cukup dikenal dikalangan rakyat Bali dengan menggunakan beberapa dalang dalam setiap pementasannya.

Sejarah kesenian sendratari Bali ini seperti yang dikutip dalam penjelasan Babad Bali, sendratari memiliki banyak lakon atau cerita yang diciptakan oleh para seniman Bali seperti lelakon berikut ini :

Jayaprana
Rajapala
Sampik Ingtai
Arya Bebed
Kebo Iwa
Ramayana
Mahabarata, dll

Lakon Jayaprana adalah awal mula dari sejarah kesenian sendratari ini, menceritakan sebuah legenda dari buleleng yang diciptakan oleh Bapak I Wayan Beratha pada tahun 1961.

Dan beliau juga pencipta Sendratari Ramayana pada tahun 1965 seperti yang dikutip dari Workshop dan Ekspresimentasi Tari Bentara Budaya Bali, Bale Bengong, Sendratari Ramayana yang diciptakan ini memiliki konsep yang menyatu dengan alam dan pertama kali pementasannya sebagai pertunjukkan kolosal karena melibatkan banyak penari dan kesemuanya anak-anak dan untuk tari pendet saja dalam pergelaran ini menampilkan 40 orang penari.

***
Gamelan dan musik pengiring
dalam pementasan pertama kali Sendratari
pada pesta kesenian Bali
****
Menurut swecaputra dalam blog ISI Denpasar, kesenian sendratari ini mulai dipentaskan pada Pesta Kesenian Bali untuk pertama kali pada tahun 1979.

Pada waktu itu sendratari dipentaskan oleh SMKI dengan mempergunakan cerita Mahabrata yang mengambil judul “Sayembara Dewi Ambara”, iringan musik atau gamelannya memakai 2 jenis barungan gamelan yaitu

Gamelan Gong Gede
Semar pegulingan.

Bentuk garapan seperti ini dipentaskan setiap tahun sekali, dengan demikian dari tahun ke-tahun, cerita-cerita yang dipergunakan sebagai garapan sendratari semakin berkembang dan bertambah unik dengan berbagai bentuk adegan, otomatis iringannya pun bertambah dari 2 barungan gamelan menjadi 3 barungan.
Melihat dari pengalaman tersebut di atas, untuk menghemat tenaga maka timbul ide dari Bapak Wayan Beratha untuk membuat satu jenis barungan gamelan lagi yang diberi nama Gong Smara Dhana. Pemberian nama ini tidak bersumber pada salah satu buku, lontar atau prasasti, melainkan timbul dari hati nuraninya sendiri dalam pementasan kesenian sendratari.
***

Selasa, 08 April 2014

TARI LENGGANG ASMARA


TARI LENGGANG ASMARA
Tari Lenggang Asmara berasal dari kata Lenggang yang artinya goyangan, dan Asmara yang berarti cinta/percintaan. Tari Lenggang Asmara menceritakan tentang seorang Prabu Adipati yang jatuh cinta kepada dayangnya. Meskipun ada perbedaan derajat antara mereka berdua, namun itu semua tidak menyurutkan rasa sayang sang Prabu Adipati terhadap si dayang tersebut. Cinta mereka tidak membeda-bedakan pangkat, tetapi benar-benar tulus dari hati. Kembang Sritaman (bunga setaman) yang diberikan oleh sang Prabu adalah sebagai tanda cinta untuk si dayang, di mana memiliki arti bahwa kembang sritaman tersebut berbau harum, wangi, indah, penuh kesucian, dan penuh dengan warna. Itu semua dimaksudkan agar cinta mereka sama seperti kembang sitaman. Tari Lenggang Asmara bagaikan lagu tembang macapat Asmaradana berikut ini :
Gegaraning wong akrami
Dudu bandha dudu rupa
Amung ati pawitane
Luput pisan kena pisan
Lamun gampang luwih gampang
Lamun angel, angel kalangkung
Tan kena tinumbas arta
Aja turu sore kaki
Ana Dewa nganglang jagad
Nyangking bokor kencanane
Isine donga tetulak
Sandhang kelawan pangan
Yaiku bageyanipun
Wong welek sabar narimo


Tarian ini merupakan hasil kreativitas dari siswa siswi SMA N 1 Kayen, Pati, M. Yudi Guntara (sebagai Prabu Adipati) dan Chafidhotun Nikmah (sebagai dayang). Tari Lenggang Asmara pertama kali ditarikan pada hari Sabtu, 29 Maret 2014 di acara/kegiatan Gladis Pastika (SMP N 2 Kayen). 

Tari tersebut mendapat apresiasi yang membuat kami sebagai pihak penari merasa bangga dengan apa yang telah ditampilkan. Terima kasih kami ucapkan kepada kak Ira dan kak Yanto yang telah menghadirkan kami dalam acara tersebut. Sekaligus sebagai penata arias dan penata busana. Terima kasih juga kepada keluarga besar SMP N 2 Kayen yang menerima kehadiran kami dengan hangat dan penuh kedamaian. Kami sebagai pihak penari tdak luput dari referensi yang selama 3 tahun kami dapatkan dari Mr. Galuh Pintoko N.P, S.Sn. selaku guru mapel Seni Budaya (pembimbing seni tari).

Sabtu, 05 April 2014

Tari Incling Jangget Surabaya

Tanggal oleh Budaya Indonesia
Kategori: Tarian
Elemen Budaya: Tarian
Provinsi: Jawa Timur
Deskripsi : Tari Incling Jangget adalah tari kreasi baru dari Surabaya, Jawa Timur

MACAM-MACAM TARI NUSANTARA

                                                      TARI JAIPONG

Tari jaipong atau Jaipongan adalah sebuah kesenian dari sunda berupa seni tari dengan diiringi musik Degung, yang dulunya bernama ketuk tilu dan bermula diciptakan seniman berbakat yang bernama gugum gumilar. yang menjadi ciri utama Jaipongan adalah gaya kaleran,alami dan apa adanya, ceria, erotis, humoris, bersemangat, berspontanitas, dan kesederhanaan. Tari Raden Bojong,Tari Daun dan Pulus Keser Bojong adalah karya tari jaipong Gugum Gumbira yang pertamakalinya.



Gerakan-gerakan pada TARI JAIPONG sangat dipengaruhi oleh kliningan, pencak silat, seni ketuk tilu, dan ronggeng sehingga terbentuk GERAKAN TARI YANG INDAH dan enak untuk kita tonton

Dalam garak Tari Jaipong dapat dibedakan dari beberapa bagian diantaranya
1. Gerakan pembuka yang disebut juga Bukaan
2 . Bagian dari gerakan-gerakan yang disebut Pencungan
3.  pemberhentian atau titik disebut Ngala
4.  Pindahan dari peralihan sesudah ngala disebut Mincit




Dalam perjalanannya kesenian Jaipongan terjadi pro kontra mengenai keerotisan dalam pakaian dan gaya tariannya. namun meski demikian seni JAIPONGAN masih tetap eksis di berbagai acara pentas nasional maupun Internasional


                                                         TARI MERAK

Tari Merak merupakan salah satu tarian daerah kreasi baru yang dikreasikan oleh Raden TjetjepSomantri sekitar tahun 1950-an, yang kemudian direvisi kembali oleh dra. Irawati Durban pada tahun 1965.
Pada tahun 1985 dra. Irawatai merevisi kembali koreografi tari merak dan mengajarkannya secara langsung pada Romanita Santoso pada tahun 1993.
Walaupun tarian ini dibawakan oleh penari wanita, namun sebenarnya tarian ini mengambarkan tingkah laku merak jantan dalam menebatkan pesonanya kepad merak betina.
Dalam tarian ini digambarkan bagaimana usaha merak jantan untuk menarik perhatian merak betina dengan memamerkan bulu ekornya yang indah dan panjang.
Dalam usahanya menarik merak betina, sang jantan akan menampilkan pesona terbaik yang ada pada dirinya hingga mampu membuat sang betina terpesona dan berlanjut pada ritual pekawinan.
tari merak
Gerakan tari merak lebih didominasi oleh gerakan yang menggambarkan keceriaan dan kegembiraan yang dipancarkan oleh sang merak jantan. Dan nilai keceriaan yang digambarkan dalam tari merak semakin jelas dengan penggunaan kostum yang digunakan oleh sang penari.
Dalam membawakan tarian merak, umumnya penari akan menggunakan kostum yang berwarna – warni dengan aksesoris yang semakin mempertegas kesan burung merak jantan.
Dan yang tidak pernah ketinggalan dalam kostum tari merak adalah sayap burung merak yang bisa dibentangkan dan hiasan kepala (mahkota) yang akan bergoyang – goyang ketika penari menggerakan kepalanya.

Fungsi Tari Merak

Sedangkan untuk fungsi tari merak, tarian ini sering ditampilkan sebagai tarian persembahan atau tarian penyambutan. Berikut adalah beberapa fungsi tari merak :
  • sebagai tarian persembahan untuk para tamu yang hadir dalam resepsi pernikahan
  • sebagai tarian penyambutan untuk rombongan pengantin pria ketika menuju pelaminan
  • sebagai tarian penyambutan tamu agung dalam sebuah acara atau ritual
  • sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya Indonesia dalam kancah internasional. (nn)


                                                     TARI PIRING

Tari Piring merupakan tarian khas dari daerah Sumatera Barat, Minang Kabau. Tarian khas ini sudah sangat terkenal di Indonesia. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan sedikit mengulas Sejarah Asal Usul Tari Piring yang sangat terkenal tersebut sebagai penambah wawasan dan pengetahuan kita terhadap budaya bangsa. Mari kita simak informasi lengkapnya dibawah ini.
Sejarah Asal Usul Tari Piring
Tari Piring
Pada mulanya, Tari Piring ini merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah. Ritual dilakukan dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang kemudian diletakkan di dalam piring sembari melangkah dengan gerakan yang dinamis.

Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tradisi Tari Piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. Akan tetapi, tari tersebut digunakan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak yang ditampilkan pada acara-acara keramaian.

Di Malaysia , tarian piring dipersembahkan ketika majelis perkawinan terutama bagi keluarga berada, bangsawan dan hartawan di sebuah kampung. Tarian ini biasa dilihat di kawasan Seremban, Kuala Pilah dan Rembau oleh kumpulan tertentu. Ada yang dipersembahkan dengan pakaian lengkap dan pakaian tarian tidak lengkap. Sedikit bayaran akan dikenakan jika menjemput kumpulan tarian ini mempersembahkan tarian piring. 10 - 20 menit diperuntukkan untuk persembahan tarian ini.

 Tarian piring dan silat dipersembahkan di hadapan mempelai di luar rumah. Majelis perkawinan atau sesuatu apa-apa majlis akan lebih meriah jika diadakan tarian piring. Namun begitu, segelintir masyarakat tidak dapat menerima kehadiran kumpulan tarian kerana dianggap ada percampuran lelaki dan perempuan. Bagi mengatasi masalah itu, kumpulan tarian disertai hanya gadis-gadis sahaja.
Kira-kira 8 (delapan) abad yang lalu, Tari Piring telah ada di wilayah kehulauan Melayu. Tari Piring identik dengan Sumatera Barat. Hingga masa kerajaan Sri Vilaya, eksistensinya masih ada bahkan semakin mentradisi. Pada saat masa-masa kejayaan kerajaan Majapahitlah, tepatnya abad ke-16, kerajaan Sri Vijaya dipaksa jatuh.

Namun demikian, Tari Piring tidak lantas ikut lenyap. Bahkan, Tari Piring mengalami perkembangan ke wilayah-wilayah Melayu lain seiring hengkangnya pengagum setia Sri Vijaya. Bergantinya pelaku peradaban memaksa adanya perubahan konsep, orientasi dan nilai pada Tari Piring.

Pada awalnya Tari Piring diperuntukkan buat sesembahan para dewa, dibarengi dengan penyediaan sesaji dalam bentuk makanan yang lezat-lezat. Tarian ini dibawakan oleh beberapa perempuan yang dengan penampilan khusus, berbusana indah, sopan, tertib, dan lemah lembut.

Dalam perjalanannya, orientasi atau tujuan sesembahan Tari Piring bergeser drastis. Ketika Islam datang, orientasi penyajian tidak lagi tertuju pada para dewa, namun dipersembahkan kepada para raja dan pejabat, khususnya saat ada pertemuan atau forum khusus dan istimewa lainnya. Selain itu, Tari Piring juga semakin populer dan tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan elit tertentu.

Tidak cukup sampai disitu, perubahan orientasi terus dilakukan. Arti dan makna Tari Piring diartikan secara agak luas. Dalam konteks ini, raja tidak harus kepala negara atau pemimpin kekusaan politik pada rakyatnya, tapi bisa dianalogikan dengan sepasang pengantin. Sang pengantin adalah raja, yaitu “raja sehari”. Karena itulah tradisi Tari Piring kerap dipersembahkan dihadapan “raja sehari” (pengantin) saat bersanding dipelaminan dalam acara walimatul ‘arsy.

Tari Piring atau dalam bahasa Minangkabau disebut dengan Tari Piriang, adalah salah satu jenis Seni Tari yang berasal dari Sumatra Barat yaitu masyarakat Minangkabau disebut dengan Tari Piring karena para penari saat menari membawa piring.

Pada awalnya dulu kala Tari Piring diciptakan untuk memberi persembahan kepada para dewa ketika memasuki masa panen, tapi setelah datangnya agama islam di Minangkabau Tari Piring tidak lagi untuk persembahan para dewa tapi ditujukan bagi majlis-majlis keramaian yang dihadiri oleh para raja atau para pembesar negeri, Tari Piring juga dipakai dalam acara keramaian lain misalnya seperti pada acara pesta perkawinan.

Mengenai waktu kemunculan pertama kali Tari Piring ini belum diketahui pasti, tapi dipercaya bahwa Tari Piring telah ada di kepulaian melayu sejak lebih dari 800 tahun yang lalu. Tari Piring juga dipercaya telah ada di Sumatra barat dan berkembang hingga pada zaman Sri Wijaya. Setelah kemunculan Majapahit pada abad ke 16 yang menjatuhkan Sri Wijaya, telah mendorong Tari Piring berkembang ke negeri-negeri melayu yang lain bersamaan dengan pelarian orang-orang sri wijaya saat itu.
 
 

                                                   TARI PENDET


Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler, pada tahun 1970-an yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangku pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif. 

Pada awalnya tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada,merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. Dan tari pendet disepakati lahir pada tahun 1950. 

TARI SAMAN


Di antara beraneka ragam tarian dari pelosok Indonesia, tari saman termasuk dalam kategori seni tari yang sangat menarik. Keunikan tari saman ini terletak pada kekompakan gerakannya yang sangat menakjubkan. Para penari saman dapat bergerak serentak mengikuti irama musik yang harmonis. Gerakan-gerakan teratur itu seolah digerakkan satu tubuh, terus menari dengan kompak, mengikuti dendang lagu yang dinamis. Sungguh menarik, bukan? Tak salah jika tari saman banyak memikat hati para penikmat seni tari. Bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara. Sekarang, mari kita ulas lebih dalam lagi mengenai tarian unik ini.

Sejarah
Mengapa tarian ini dinamakan tari Saman? Tarian ini di namakan Saman karena diciptakan oleh seorang Ulama Aceh bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Awalnya, tarian ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, tari saman menjadi salah satu media dakwah.

Pada mulanya, tari saman hanya ditampilkan untuk even-even tertentu, khususnya pada saat merayakan Hari Ulang Tahun Nabi Besar Muhammad SAW atau disebut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya, tari saman ditampilkan di bawah kolong Meunasah (sejenis surau panggung). Namun seiring perkembangan zaman, tari Saman pun ikut berkembang hingga penggunaannya menjadi semakin sering dilakukan. Kini, tari saman dapat digolongkan sebagai tari hiburan/pertunjukan, karena penampilan tari tidak terikat dengan waktu, peristiwa atau upacara tertentu. Tari Saman dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan kegembiraan, seperti pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau perayaan-perayaan lainnya. Untuk tempatnya, tari Saman biasa dilakukan di rumah, lapangan, dan ada juga yang menggunakan panggung.

Tari Saman biasanya ditampilkan dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syekh. Penari Saman dan Syekh harus bisa bekerja sama dengan baik agar tercipta gerakan yang kompak dan harmonis.

Makna dan Fungsi
Tari Saman dijadikan sebagai media dakwah. Sebelum Saman dimulai, tampil pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat. Pemuka adat memberikan nasehat-nasehat yang berguna kepada para pemain dan penonton. Syair-syair yang di antunkan dalam tari Saman juga berisi petuah-petuah dan dakwah.
Berikut contoh sepenggal syair dalam tari S aman:

Reno tewa ni beras padi, manuk kedidi mulu menjadi rempulis bunge.

Artinya:

Betapa indahnya padi di sawah dihembus angin yang lemah gemulai. Namun begitu, burung kedidi yang lebih dulu sebagai calon pengantin serta membawa nama yang harum.

Namun dewasa ini, fungsi tarian saman menjadi bergeser. Tarian ini jadi lebih sering berfungsi sebagai media hiburan pada pesta-pesta, hajatan, dan acara-acara lain.

Nyanyian
Pada tari Saman, terdapat 5 macam nyanyian :

1. Rengum, yaitu sebagai pembukaan atau mukaddimah dari tari Saman (yaitu setelah dilakukan sebelumnya keketar pidato pembukaan). Rengum ini adalah tiruan bunyi. Begitu berakhir langsung disambung secara bersamaan dengan kalimat yang terdapat didalamnya, antara lain berupa pujian kepada seseorang yang diumpamakan, bisa kepada benda, atau kepada tumbuh-tumbuhan.
2. Dering, yaitu rengum yang segera diikuti oleh semua penari.
3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
4. Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak.
5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.


Gerakan
Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian saman: Tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, syeikh saman mempelajari tarian melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya. Dalam konteks kekinian, tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.

Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo). Selain itu, ada 2 baris orang yang menyanyi sambil bertepuk tangan dan semua penari Tari Saman harus menari dengan harmonis. Dalam Tari Saman biasanya, temponya makin lama akan makin cepat supaya Tari Saman menarik.

Penari
Pada umumnya, tari Saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki. tetapi jumlahnya harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Pendapat Lain mengatakan tarian ini ditarikan kurang dari 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Namun, perkembangan di era modern menghendaki bahwa suatu tarian itu akan semakin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak. Di sinilah peran Syeikh, ia harus mengatur gerakan dan menyanyikan syair-syair tari Saman.

Kostum atau busana khusus saman terbagi dari tiga bagian yaitu:
· Pada kepala: bulung teleng atau tengkuluk dasar kain hitam empat persegi. Dua segi disulam dengan benang seperti baju, sunting kepies.
· Pada badan: baju pokok/ baju kerawang (baju dasar warna hitam, disulam benang putih, hijau dan merah, bahagian pinggang disulam dengan kedawek dan kekait, baju bertangan pendek) celana dan kain sarung.
· Pada tangan: topeng gelang, sapu tangan. Begitu pula halnya dalam penggunaan warna, menurut tradisi mengandung nilai-nilai tertentu, karena melalui warna menunjukkan identitas para pemakainya. Warna-warna tersebut mencerminkan kekompakan, kebijaksanaan, keperkasaan, keberanian dan keharmonisan.

Tari saman memang sangat menarik. Pertunjukkan tari Saman tidak hanya populer di negeri kita sendiri, namun juga populer di mancanegara seperti di Australia dan Eropa. Baru-baru ini tari saman di pertunjukkan di Australia untuk memperingati bencana besar tsunami pada 26 Desember 2006 silam. Maka dari itu, kita harus bangga dengan kesenian yang kita miliki, dan melestarikannya agar tidak punah.
 

Tor tor adalah tari tradisional Suku Batak.
Gerakan tarian ini seirama dengan iringan musik (magondangi) yang dimainkan menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, terompet batak, dan lain-lain.
Menurut sejarah, tari tor tor digunakan dalam acara ritual yang berhubungan dengan roh. Roh tersebut dipanggil dan "masuk" ke patung-patung batu (merupakan simbol leluhur).
Patung-patung tersebut tersebut kemudian bergerak seperti menari, tetapi dengan gerakan yang kaku. Gerakan tersebut berupa gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.
Jenis tari tor tor beragam. Ada yang dinamakan tor tor Pangurason (tari pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar.
Sebelum pesta dimulai, tempat dan lokasi pesta terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan jeruk purut agar jauh dari mara bahaya.
Selanjutnya ada tari tor tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja.
Tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi di sebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).
Terakhir, ada tor tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah.
Tunggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah, dan Benua bawah.
Dahulu, tarian ini juga dilakukan untuk acara seremoni ketika orangtua atau anggota keluarganya meninggal dunia. Kini, tari tor tor biasanya hanya digunakan untuk menyambut turis.



Minggu, 23 Maret 2014

JENIS TARIAN NUSANTARA DAN DAERAH ASLINYA

Kali ini akan saya bagikan wacana tentang jenis-jenis tarian Nusantara beserta daerah asalnya. Silakan dibaca dan disimak baik-baik ya guys 
a. Tari Saman, Seudati : Nanggroe Aceh Darussalam
b. Tari Manduda, Tor Tor, Serampang 12 : Sumatra Utara
c. Tari Piring, Alu Ambek,Mancak, Lilin : Sumatra Barat (Minang)
d. Tari Lambak Joget (pergaulan), Zapin : Riau
e. Tari Sekapur Sirih, Rabgguk : Jambi
f. Tari Pagar Pengantin, Tanggai : Sumatra Selatan
g. Tari Andua, Saputangan : Bengkulu
h. Tari Bedana, Ngarak Lampung : Lampung
i. Tari Lenong, Topeng Blantek : DKI Jakarta
j. Tari Jaipong Ketuk Tilu, Merak,
Kandagan, Topeng : jawa Barat
k. Tari Keraton (pethilan wireng, wayang orang,
langendriyan, srimpi dan bedaya), Tari Rakyat
(badui, kethek ogleng, soreng, jathilan,
lengger) : Jawa Tengah
l. Tari Keraton (pethilan wireng, wayang orang,

Langen mandrawanaran, srimpi, bedaya) Tari
Rakyat (badui, tayuban) : Daerah Istimewa Yogyakarta
m. Tari Ngremo, Beskalan, Ludruk, Tandak,
Jaran Goyang, Padhang wulan, Jathilan,
(jaranan), Reog : Jawa Timur
n. Tari Japin Berkilah : Kalimantan Barat
o. Tari Kinyah Bawi : Kalimantan Tengah
p. Tari Beksa Kembang : Kalimantan Selatan
q. Tari Perang : Kalimantan Timur
r. Tari Maengket, Pakarena : Sulawesi Selatan
s. Tari Mopopute Cingke : Sulawesi Tengah
t. Tari Palumpa : Sulawesi Tenggara
u. Tari pendet, Panyembrama, Margapati,
Panji Semirang, Kebyar Duduk, Baris, Keris
Barong, Topeng, Rangda, Sang Hyang, Kecak : Bali
v. Tari Gandrung : Nusa Tenggara Barat
w. Tari Bido Feto Eman : Nusa tenggara Timur
x. Tari Inabar Ilaa : Maluku
y. Tari Perang, Selamat Datang : Irian Jaya

Itulah beberapa jenis tarian yang ada di Nusantara. Kita sebagai generasi muda perlu melestarikan budaya-budaya apa saja yang kita miliki khususnya pada seni tari. Semoga wacana di atas dapat bermanfaat bagi kita semua untuk menambah wawasan mengenai tarian-tarian Nusantara. Terima kasih 

Sabtu, 22 Maret 2014

Berkaca Pada Rasa - Mila Rosinta Totoatmojo, S.Sn




135746867159808086
1357468878172554231Koreografer : Mila Rosinta Totoatmojo S.Sn
Komposer : Cosin Mukti S.Sn
Penari : Ayu Permata Sari, Duwi Novrianti, Yoqta Gita, Silvia Dewi Martaningrum, Mila Rosinta, Hendi Hardiawan dan Adek Rohim
Pemusik : Chosin Mukti, Fierly Adela, Putut, Glen dan Catra
Make up dan Kostum : Fuad Fuadi dan Bunda Ratu Ayu
Setting dan Properti : Gajah Mada dkk
Lighting : Eko Sulkan
Tim Produksi : STUPA Community
Koreografer Mila Rosinta Totoatmojo, S.Sn dan kawan-kawan sukses melaksanakan pagelaran tari berjudul Berkaca Pada Rasa di Audotorium Tari Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)  Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, tadi malam. Pagelaran tari yang telah dipersiapkan sejak November tahun lalu ini benar-benar berhasil memukau perhatian para penonton. Tidak hanya orang Indonesia saja, namun orang barat pun ikut terpukau karenanya. Pagelaran karya tari tersebut diringi dengan musik oleh penata musik M. Chosin Mukti.
Dalam pementasan tersebut Mila dkk menggunakan topeng dan cermin. Ia selalu berusaha menyelipkan nilai-nilai positif kehidupan yang luhur pada seni tari yang ia pentaskan. Termasuk kali ini Mila mengangkat tema Berkaca Pada Rasa, karena ia ingin mengajak para penonton untuk berintrospeksi diawal tahun 2013 ini, “Cermin merupakan refleksi dari diri kita sendiri.
Siapa yang menabur Ia yang menuai hasil, jadi jika kita bersikap baik maka mendapatkan refleksi yang baik, jika kita bersikap buruk maka mendapatkan refleksi yang buruk juga, Aku ingin mengajak penonton berintrospeksi diri diawal tahun 2013 ini, katanya seperti yang dikutip dalam situs yahoo.com .
Melalui koreografi Mila ingin menunjukkan fenomena yang biasa terjadi pada diri manusia, “Ketika kita menangis, marah, sedih, gembira, kita sering melihat cermin untuk mengetahui ekpresi wajah kita, kita juga sering mengadu pada cermin”, paparnya. Sedangkan topeng menjadi simbol bahwa manusia sering lupa dengan dirinya sendiri.
Cantik, muda, dan berprestasi begitulah kiranya ungkapan yang layak untuk wanita muda yang satu ini. Tidak hanya cantik namun ia berprestasi. Hingga saat ini puluhan komposisi tari telah berhasil ia ciptakan baik tari tradisi maupun kontemporer. Bahkan berbagai penghargaaan telah ia terima, ia ingin membuktikan bahwa seni tidak hanya sebatas tontonan saja, namun juga sarat dengan nilai-nilai positif kehidupan yang bisa dipetik oleh penikmatnya.
Lahir dari pasangan Sudarwoto dan Endang Suksesi yang keduanya merupakan seniman dalam bidang videografi dan perfilman, jiwa seni pun mengalir kuat dalam dirinya. Semenjak kecil ia sudah dikenalkan dengan dunia seni oleh kedua orang tuanya. Ia belajar melukis, musik, dan menari. Bakat seni tarinya sangat menonjol, hal itu dibuktikan dengan prestasi yang ia raih, pertama kali ia mengikuti lomba tari ia langsung menjadi juara pertama se DKI, padahal pada saat itu ia masih kelas 2 Sekolah Dasar, luar biasa bukan?
Prestasinya tidak hanya berhenti disitu, namun terus berlanjut ke tingkat nasional. Karena prestasinya itu ia dipercaya untuk menjadi ketua saggar tari SMP di sekolahnya. Saat itulah ia mulai belajar menciptakan komposis tari yang kemudia dibawakan bersama temen-temannya.
Setelah lulus SMP, keluarganya pindah ke Yogyakarta. Tidak hanya berhenti disitu kemampuan menarinya malah semakin berkembang di kota Budaya ini. Pada saat SMA ia pernah mendirikan sebuah band cewek bersama teman-temannya. Disitu ia berperan sebagai drummer. Band yang bernama lipsing ini sering pentas dalam kegiatan sekolah maupun di luar sekolah. Di masa SMA ini, Mila mulai belajar tarian Jawa sebagai syarat untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke Negeri Sakura.
Setelah lulus SMA, ia semakin tertarik untuk memperdalam ilmu tari yang ia miliki. Akhirnya ia putuskan untuk kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jususan Penciptaan Seni Tari. Disini lagi-lagi ia mendapatkan prestasi hingga mampu meraih beasiswa.
Kemampuannya dalam menciptakan tari pun semakin terasah dan teruji. Beberapa komposisi tari yang telah ia pentaskan antara lain koreografi motif batik kawung yang ia namai Srimpi Kawung (2009), the chair (2010), kawung kontemporer (2011). Ada lagi The Entrapment dan The Beginning karya yang diciptakannya untuk sebuah pementasan di negeri Jepang.
Mila terus menari karena ia masih memiliki banyak mimpi. “aku iri sama orang barat yang bisa menghargai karya seni, dan aku ingin orang-orang kita bisa melakukan hal yang sama.. “ katanya seperti yang dikutip dalam www.kratonpedia.com. Sampai saat ini ia ingin memiliki padepokan sendiri, dimana ia bisa menghimpun anak-anak yang ingin berekspresi namun tak memiliki ruang.
"Berkaca Pada Rasa" sebagai ritual kontemplatif yang dibutuhkan setiap orang khususnya pada suasana tahun baru 2013 .. Memulai hal yang baru tidak lepas dari penilaian historis yang mengacu pada refleksi rasa. Pada karya tari ini media cermin digunakan sebagai wacana refleksi diri menuju langkah kedepan pada kesempurnaan diri.